Title : My Prince
Author : Yukari a.k.a Tania
Type: one shoot
Genre:Comedi, Friendly
Cast- Aoi Kazama
- Daiki Arioka
Aku adalah Aoi Kazama,mungkin tidak ada yang berani
mendekat denganku selain dia >> si pengacau Arioka Daiki. Tetapi kami
sangat akrab karna sejak kecil kami sudah selalu bersama-sama ketika ditempat
latihan taekwando. Ya itu juga salah satu alasan tidak ada yang berani
mendekati ku.
“jangan perna mengganguku!” seru Aoi yang memberi
beberapa tonjokan ke seorang laki-laki yang tidak sengaja menyenggolnya ketika
sedang tidur. Daiki yang melihatnya didepan kelas pun hanya bergeleng-geleng
“Hey! jaga sikapmu! Kamu itu perempuan tidak baik seperti
ini.” Tegur Daiki berjalan masuk kekelas
“bukan urusanmu.” gumam Aoi duduk kembali ke tempatnya
dan melemeskan tangannya. Mungkin karna keasyikan menghajar orang, tangannya
sampai biru.
“dasar kau itu memang susah dinasehati” gumam Daiki yang
mejeng didepan Aoi
“kenapa kamu kesini?” tanya Aoi
“kelasku sedang tidak ada pelajaran lagian aku kesini
ingin melihat aksi mu” nyindir Daiki yang sudah biasa didengar Aoi
“ouh, tetapi bentar lagi Sensei Kimura sudah mau masuk
kelasku loh” bisik Aoi jail
“sensei Kimura? Aku pergi dulu!” pamit Daiki langsung
berlari pergi karna Sensei Kimura sangat terkenal galaknya disekolah.
“dasar pengecut” nyengir Aoi yang berhasil mengerjai
Daiki, dan sebenarnya kelas Aoi juga sedang pelajaran kosong.
***
“ siapa kalian?” tanya Aoi mundur beberapa langkah karna
dicegat 3orang laki-laki yang terlihat seperti Yakuza
“ternyata perempuan mungil ini yang melukain anak buah
kita kemarin” gumam seorang Yakuza ketemannya yang lain sambil menunjuk-nujuk
Aoi
“siap-siap menerima hajaran kamu!” seru Yakuza tersebut
“dasar! Aku tidak ada waktu untuk kalian tetapi jika
kalian ingin bermain cukup 5menit saja untuk kalian” senyum Aoi melempar tasnya
kepinggir.
Seperti kata Aoi cukup 5menit ketiga Yakuza itu sudah
babak belur dijalan dengan tak berdayanya.
“time out, sayonara” lambainya mengambil tasnya dan
berjalan pergi
***
Dikelas taekwando, mungkin Aoi menjadi salah satu
perempuan yang tidak bisa dikalahkan siapapun, dia selalu mendapat juara
disetiap perlombaan. Tetapi mungkin hanya Daiki yang dapat melawannya tetapi
karna Aoi adalah seorang perempuan jadi Daiki selalu mengalah dengannya.
“sepertinya tadi aku terlalu kasar” gumam Aoi
mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu
“daijoubu,aku tau tenaga kamu memang seperti kerbau jadi
tidak heran aku bisa keseleo karna bantinganmu” nyindir Daiki sedikit membuat
Aoi emosi
“Baka!” seru Aoi memberi Daiki sebuah tendangan
“ittai” teriak Daiki yang menahan tendangan itu dengan
tangannya yang sudah keseleo itu.
“gomen-gomen, sepertinya aku terlalu berlebihan” Gumam
Aoi merasa tidak enak melihat tangan Daiki yang bertambah sakit
“kau itu! Untung saja masih bisa gerak jika tidak aku
tidak dapat mengerjakan ujian besok” Guman Daiki mencoba mengerakkan tangannya
Aoi hanya cengar cengir melihat muka bodoh Daiki.
***
Ya begitulah selama ini tidak ada yang dapat mengalahkan
Aoi karna dia ingin menjadi seorang juara. Dia tidak suka melihat wanita lemah
yang selalu ditindas. Itulah sebab dia masuk ke tempat latihan taekwando.
“aku tidak berminat dengan pelajaran-pelajaran ini” gumam
Aoi melempar beberapa buku mata pelajaran dan kembali menguap.
“kamu mau makan telur lagi?” tanya Daiki sedikit sindiran
“sepertinya, aku ngatuk biarkan aku tidur. Awas jika kamu
mengangguku! Akan ku buat kamu patah tulang!” ancem Aoi
“dasar! Yasudah sana tidur, aku mau belajar dulu” gumam
Daiki membuka bukunya dan mulai belajar.
“jelas-jelas dia adalah seorang perempuan yang sangat
imut ketika tidur, tetapi kenapa dia masuk taekwando? Dan sifatnya tidak jauh
ganas dari harimau?” batin Daiki yang tidak sengaja menatap Aoi yang sedang
tidur lalu dia kembali menantap bukunya tetapi dia menaruh bukunya lagi dan
senyuman licik tiba-tiba keluar mewarnai mukanya
“kebakaran-kebakaran” teriaknya ingin mengagetkan Aoi
tetapi usahanya sepertinya gagal tidak ada respon sama sekali dari Aoi.
“kenapa dia? tumben hari ini tidak ada respon sama sekali?”
gumam Daiki bingung melihat wajah Aoi. “perempuan seperti dia tidak mungkin
sakitkan?” gumamnya lagi. “Sudahlah biarkan, aku mau kembali belajar”
***
“moshi-moshi, Dai-kun, ah sungguh menyebalkan hari ini
demam, bagaimana ini?” tanya Aoi seperti tidak dapat bangun dari kasurnya
“itu sih deritamu” nyengir Daiki dalam telepon
“dasar kau! Sudah ah! Aku mau siap-siap ke sekolah dulu” gumam
Aoi langsung mematikan teleponnya.
“dasar laki-laki itu memang tidak bisa diharapkan,
mending aku usaha sendiri!” gumam Aoi berusaha bangun dan berjalan masuk kamar
mandi
***
“siapa kalian?” tanya Aoi dengan lemesnya
“kamu lupa dengan kami?” tanya k3 Yakuza kemaren
sepertinya membawa gengnya
“sungguh menyebalkan, hari ini aku tidak mau main dengan
kalian dulu” gumam Aoi berjalan menembus geng itu
“Oh tidak bisa, permainan baru akan dimulai” senyum
Yakuza itu licik
“menyebalkan!” Aoi baru mau memukul mafia itu, langsung
diserang seorang Yakuza dari belakang sehingga dia terjatuh pingsan.
“Hey! kalian! jangan berbuat sesuatu yang tidak sopan
dengan seorang perempuan mungil” senyum seorang laki-laki tiba-tiba muncul.
“siapa kau?” tanya salah satu Yakuza itu
“ tidak perlu tau aku siapa tetapi jangan perna
menganggunya. Dia orang yang penting bagiku!” seru laki-laki itu berjalan
mendekati geng itu
“akan kulihat seberapa kau mementingkan perempuan ini”
gumam Yakuza itu menarik Aoi kepinggiran
***
“benar-benar melelahkan, sepertinya dia masih tertidur”
gumam Daiki mengeluarkan kotak obat yang tersimpan diruang UKS
Tidak lama pun Aoi terbangun.
“masih tau waktu bangun ya kau” Nyindir Daiki
“aku dimana?” tanya Aoi tidak memedulikan sindiran Daiki
“disurga. Eh salah perempuan seperti mu lebih cocok masuk
neraka. Un, jadi sekarang kamu ada dineraka” gumam Daiki mengangguk-angguk
setuju dengan pemikirannya
“aku tidak sedang bercanda” gumam Aoi pelan
“aku juga tidak bercanda, ini makan dulu obatnya daripada
demam kau naik” gumam Daiki memberikan obat yang tadi dia keluarkan lalu
mengambilkan Aoi segelas air hangat
Aoi pun mengambil obat itu lalu meminum air yang
diberikan Daiki Lalu dia kembali tiduran
“baru pertama kali aku melihat seorang Kazama Aoi kalah
melawan orang” sindir Daiki.
Mendengar kata-kata itu Aoi pun menatap Daiki dengan
tajam “itu karna aku sedang lemes!”
serunya
“sudah-sudah sana israhat” tegur Daiki
“awas kau jika macem-macem” ancem Aoi sebelum tidur
seperti biasanya.
Daiki hanya terduduk disampingnya untuk menjaganya sampai
demamnya turun dan melewatkan waktu ujian dia
***
Hari-hari pun kembali seperti biasa lagi. Aktivitas
mereka kembali normal juga, hari ini waktunya Aoi melawan Daiki ketika latihan
Taekwando
Daiki yang terus diserang Aoi tidak dapat menyerang
balik. Tanganya terasa sangat lemas dan akhirnya dia pun mengalah.
“kenapa kamu mengalah?” tanya Aoi telihat sangat tidak
senang
“aku tidak ingin mengalah tetapi tanganku seperti tidak
mempunyai tenaga sama sekali utuk menyerang” gumam Daiki yang terus melihat tanganya
“tanganmu? Apa karna waktu latihan taekwando dulu?” tanya
Aoi mengingat-ingat
Daiki pun menggeleng “ sepertinya tidak, dulu hanya
sekedar keseleo tidak mungkin sampai lemes gini” gumam Daiki menyakinkan Aoi
“sebaiknya kamu harus periksa ke dokter” Usul Aoi
“sepertinya tidak perlu” gumam Daiki
“ kau harus kedokter!” Aoi pun menarik dan memaksa Daiki
kerumah sakit
***
“sepertinya tulang tanganmu retak” gumam dokter setelah
melihat hasil ronsen tangan Daiki
“retak? Lalu bagaimana dengan pertandingan taekwando ku
3hari lagi?” tanya Daiki panik
“kamu harus menjalankan operasi dan sepertinya jika kamu
sudah sembuh, kemungkinan besar kamu tidak dapat lagi mengikuti Taekwando karna
ini akan membuat tanganmu lebih parah”jelas dokter
“anda tidak bercandakan dokter?” tanya Daiki memastikan
“iie, hal seperti ini bukanlah sebuah lelucuon” jelas
dokter itu serius
“apa karna waktu itu?” gumam Daiki teringat dengan
kejadian waktu menolong Aoi. Saat itu tangan yang keseleonya karna Aoi dan sudah
tidak kuat lagi untuk memukul orang, tetapi demi melindungi Aoi dia
melakukannya mungkin ini akibat kenapa tangannya retak
***
“tangannya retak?” gumam Aoi yang mendengar pembicaraan
Daiki dan dokter di balik pintu. “apa karna waktu itu aku terlalu kasar
dengannya jadi tangannya bukan keseleo tetapi.., aku memang Bodoh! Kenapa aku
membuat teman baikku sendiri terluka?” tanya Aoi pada dirinya sendiri. Matanya
mulai berkaca-kaca, dia berlari pergi.
***
“Aoi dimana?” gumam Daiki yang tidak melihat sosok Aoi
sama sekali setelah keluar dari ruang periksa. Lalu dia pergi mencari-cari Aoi
dan menemukan Aoi ditaman Rumah sakit.
“Seorang Aoi nangis dihadapanku?” sindir Daiki
memiringkan kepalanya agar dapat melihat Aoi yang tertunduk dan sedang menangis
“Dai-kun” peluk Aoi tiba-tiba dan membuat Daiki kaget
“Kau tidak salah makan obat?” tanya Daiki sedikit tidak
percara
“gomen, gomen.. karna aku kamu jadi tidak dapat bermain
taekwando lagi, padahal taekwando adalah kebanggan Dai-kun” gumam Aoi sambil
menangis memeluk Daiki
“bukan salahmu, ini salahku” bisik Daiki menenagkan Aoi
“Daiki, kau tidak perlu menutupku kesalahanku lagi,
maafkan aku karna selalu menganggapmu lawan ketika latihan. Karna hanya Dai-kun
yang dapat menandingi ku tetapi aku tidak perna memikirkan fisik Dai-kun,
hountouni gomen” gumam Aoi yang merasa dirinya sangat bersalah
“jika begitu, gantikan aku ketika pertandingan 3hari lagi
dan kamu harus memenangkan pertandingan itu sebagai gantinya.” Bisik Daiki yang tersenyum
“un, aku janji aku akan menang demi Dai-kun” janji Aoi
tanpa berpikir panjang
***
3hari kemudian~
Pertandingan dimulai begitu banyak peserta yang ikut dan
penonton yang memberi dukungan. Aoi
terlihat sangat percaya diri.
“ratusan lawan, demi Daiki aku harus berusaha memenangkan
pertandingan ini karna ini hutangku ke dia dan semoga operasi Daiki berhasil.”
Doa Aoi dalam hati.
Pertandingan sudah berlangsung lama sudah hampir semua peserta
telah gugur dalam pertandingan itu hanya tersisa Aoi dan lawannya yang sangat
hebat.
“demi Dai-kun aku harus memenangkan kejuaraan ini! Aku
baru sadar jika aku telah menyukai Dai-kun sejak lama. Sungguh bodoh aku!
Setelah pertandingan aku akan menyatakan ini semua dengannya!” Batin Aoi ketika
membungkuk kepada lawan dan mulai saling menyerang dengan lawannya
Baru tidak lama saja Aoi sudah jatuh lemah diarea
pertandingan tetapi dia tidak menyerah. Dia berusaha bangun dan mulai menghajar
lawannya yang sudah lemah seperti dia juga. Sambil memikirkan kenangan-kenangan
konyolnya bersama Daiki dan akhirnya dia memenangkan pertandingan tetapi karna
sudah lemes dia pun jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit.
***
“kau sudah sadar?” tanya Daiki yang berada disamping Aoi
“Dai-kun? Kenapa ada disini? Bukan Dai-kun harus
menjalankan operasi?” tanya Aoi panik tetapi badannya seperti tidak dapat
bangun dari tempat itu.
“aku sudah selesai operasi, kenapa kamu begitu bodoh
sampai seperti ini? Aku kan hanya bercanda denganmu” tanya Daiki kembali ke
inti topik
“aku menganggap serius apa yang Dai-kun ucapkan” senyum
Aoi tipis
“kamu itu! melawan seorang laki-laki itu tidak semudah
yang kau pikirkan. Apalagi jika laki-laki itu tidak mau mengalah, kamu memang
bodoh!” ucap Daiki memegang pipi Aoi dengan lembut
“jadi selama ini Dai-kun selalu mengalah denganku ketika
latihan taekwando?” tanya Aoi
Daiki pun terdiam sebentar “karna aku ingin melihat
senyuman Aoi jadi aku selalu membuat apa saja yang dapat membuat Aoi senang”
Gumam Daiki mengaku
“Daiki bodoh!”Gumam Aoi
“mungkin cinta memang membuat seseorang menjadi bodoh”
gumam Daiki tersenyum menatap Aoi “tetapi walau itu hal bodoh,aku sangat senang
setiap melakukannya karna aku sangat sayang Aoi”
“Atashi mo” gumam Aoi pelan
“apa kata mu?” tanya Daiki tidak mendengar jelas
kata-kata Aoi
“tidak ada siaran ulang” ketus Aoi
“ayolah ulang sekali lagi aku tidak mendengar dengan
jelas” pinta Daiki sedikit memelas
“tidak mau, aku mau istirahat, sana jangan mengangguku
atau tidak setelah sembuh aku akan menghajarmu lagi!” ancem Aoi
“kau berani?” tanya Daiki mengelitiki Aoi dengan tangan
kirinya karna tangan kanannya baru saja selesai dioperasi
“sudah-sudah, aku mau israhat” teriak Aoi kegelian
*END*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar