Title:New Day
Cast: -Ai Yaotome
Cast: -Ai Yaotome
-Yuya Takaki
-Renn Kiriyama
Gengre : i dont know but maybe Romance (?)
Part 1
“Sayonara Renn-chan” gumam Ai pelan, ia terus membereskan
semua barang dari Renn dan menyimpannya disebuah kotak kubus “aku akan
menyimpan semua kenanganmu dihatiku dan akan memulai lembaran baru, sesuai
janjiku padamu” batin Ai terus menahan air matanya. Dia menatap ke arah meja
belajarnya dan menemukan dua cincin terukir namanya ‘ Ai’ dan ‘Kiriyama Renn’ lalu dia mengambil
dan memasukannya kesebuah kalung polos
memakainya. “ini adalah kenangan kita berdua” gumamnya terus memegang
kalung yang telah menghias lehernya. Setelah itu dia kembali membereskan semua
barang-barang dari Renn.
*FLASH BACK~
*FLASH BACK~
“Ai” panggil Renn pelan. Ai yang baru masuk keruang inap
Renn terdiam menatap kearah Renn yang berbaring lemas diatas kasur.
“mukanya semakin pucat” batin Ai lalu melanjutkan
langkahnya mendekati Renn
“Renn-chan, bagaimana? Apakah agak baikan?” tanya Ai yang
tentu sudah tau jelas jawabannya sesunggunya kondisi Renn yang semakin parah.
Tetapi Ai menguatkan dirinya agar tetap ceria didepan Renn, dia tidak ingin
Renn merasa terbeban karena Ai
“lumayan” gumam Renn tersenyum kepada Ai
“Yokatta ne” gumam Ai memalingkan wajahnya dan menaruh
sekantong plastik berisi makanan-makanan kesukaan Renn
”Ai” panggil Renn langsung menarik Ai sekuat tenaga yang dia miliki sekarang dan membuat Ai terjatuh pada pelukannya
”Ai” panggil Renn langsung menarik Ai sekuat tenaga yang dia miliki sekarang dan membuat Ai terjatuh pada pelukannya
“Renn-chan, doshite?” tanya Ai kaget. Dia tidak mengerti
sama sekali kenapa Renn memeluknya tiba-tiba
“jangan bergerak” bisik Renn. Ai pun terdiam menuruti
kemauan Renn
“jika aku sudah tidak ada, berjanjilah untuk memulai
kehidupan baru dan lupakan aku” bisiknya tersenyum
“urusai!” teriak Ai pelan. Rasanya dia ingin sekali
langsung menampar atau memukul Renn karena perkataan bodohnya tetapi dia tidak
dapat melakukannya dia takut melukai Renn.
“diamlah” bisik Renn yang tidak menghiraukan kata Ai
“berjanjilah Ai-chan, karena waktuku tinggal sedikit” lanjutnya yang membuat Ai
membatu
“Ai-chan, berjanjilah, aku mohon” pinta Renn lagi yang
membuat Ai tidak dapat memberontak sama sekali. Ai pun tidak dapat menahan air
matanya lagi. Dia mengangguk pelan “aku berjanji” bisiknya lemas.
Renn pun tersenyum dan melepaskan pelukannya “kamu beli
apa saja? Mana apelku? Pasti kamu lupa membelinya lagi kan?” tebak Renn
mengalihkan pembicaraan
“oh ya! Aku lupa “ nyegir Ai tanpa dosa. Dia memang
sering lupa membeli apel madu kesukaan Renn
“baka! sudah sana cepat pergi beli! Aku ingin memakannya
sekarang!” seru Renn sok galak
“Hai! Hai tuan besar” gumam Ai membungkuk dan membuat
Renn tertawa
“aku pergi beli dulu ya” lanjut Ai langsung berlari
keluar
“pilih yang benar ya! Awas jika tidak manis!” teriak Renn
memperingati
Setelah Ai keluar, Renn pun kembali berbaring “ Sayonara
Ai-chan, mungkin ini detik-detik terakhirku” gumam Renn tersenyum dan menutup
matanya pelan
***
*duakhh
“ittai” rintih Ai yang terjatuh “aneh sekali, padahal aku
tidak tersandung tetapi kenapa bisa jatuh?” gumamnya terlihat bingung sambil
menatap sekitarnya “sudahlah, sebaiknya aku cepat pergi beli sebelum Renn-chan
mengoceh panjang kali lebar” gumam Ai langsung berdiri dan lanjut berlari
Setelah membeli apel kesukaan Renn, Ai pun buru-buru
berjalan kembali menuju rumah sakit.
“ada apa? Kenapa banyak suster yang keluar dari ruangan
Renn-chan?” gumam Ai terlihat bingung dia langsung berlari kearah ruangan
“kenapa itu? Kenapa Renn-chan menutup dirinya dengan kain putih? Apa aku salah
ruangan?” batin Ai mundur beberapa langkah dan melihat kedinding depan kamar inap
Renn yang jelas-jelas tertulis nama ‘Kiriyama Renn’
“tidak mungkin!” gumam Ai menjatuhkan kantong yang berisi
apel kesukaan Renn itu. dia langsung berlari kearah tempat Renn berbaring dan
membuka kain putih itu. tangannya terlihat sangat gemetaran. Dia berharap orang
itu bukanlah pacarnya, tetapi ketika melihat jelas orang yang sudah berbaring
tak berdaya diatas kasur itu adalah Renn, air mata pun tidak dapat ditampung
lagi, badannya melemas seakan tidak punya tulang. Dia terjatuh sambil menangis
keras, dadanya terasa sangat sesek “kenapa?! Kenapa kamu tega meninggalkanku?”
gumamnya
“Ai-chan, kenapa kamu menangis? aku ada disini” ucap
seorang laki-laki yang baru masuk keruangan dan berjalan mendekati Ai, dia
ingin mengelus kepala Ai tetapi tidak bisa, tubuhnya bagaikan bayangan “kenapa?
Kenapa ini?” tanyanya pada diri sendiri lalu dia terdiam ketika melihat
badannya sendiri didepan mata“apakah aku benar-benar sudah pergi?” batinnya
lalu dia menengok kearah kiri menatap dirinya sendiri dijendela, punggung terlihat
memiliki dua sayap putih yang indah “kenapa aku memiliki sayap? Tetapi ini
sangat indah” batinnya tersenyum senang melihat sepasang sayap indah melekat
pada punggungnya lalu dia kembali teringat pada Ai yang masih menangis didekat
badannya yang sudah berbaring tidak berdaya “bagaimana ini?” gumamnya bingung
melihat Ai yang terus menangis tetapi dia tidak dapat melakukan apapun “Ai!
Kamu bukan sudah berjanji akan memulai kehidupan baru tetapi..” kata-kata Renn
pun terpotong ketika dia melihat dua buah cincin yang jatuh dari badannya yang
sudah tidak berdaya itu. Dia hanya terdiam melihatnya saja karna dia tau dia
tidak dapat berbuat apa-apa
***
Ai pun berhenti menangis dia mengangkat kepalanya dan
mencari tahu apa yang terjatuh tadi. Dia menemukan dua buah cincin yang terukir
nama mereka berdua dibawah kasur tepat dia bawah tangan Renn, dia pun
membersihkan air mata yang membasahi mukanya dan mengambil surat yang di pegang
Renn.
(Ai-chan mungkin ketika kamu membaca surat ini aku sudah tidak bernapas lagi. Haha, jangan menangis lagi ya Ai-chan, kamu kan sudah berjanji padaku akan memulai kehidupan baru, awas jika aku lihat kau menangis demi ku akan ku cubit pipi mu sampai biru-biru. dan jika kamu menanyakan kenapa aku tau kamu menangis karna aku akan selalu disisimu sampai kamu mendapat orang yang benar-benar pantas untuk dirimu ai-chan
(Ai-chan mungkin ketika kamu membaca surat ini aku sudah tidak bernapas lagi. Haha, jangan menangis lagi ya Ai-chan, kamu kan sudah berjanji padaku akan memulai kehidupan baru, awas jika aku lihat kau menangis demi ku akan ku cubit pipi mu sampai biru-biru. dan jika kamu menanyakan kenapa aku tau kamu menangis karna aku akan selalu disisimu sampai kamu mendapat orang yang benar-benar pantas untuk dirimu ai-chan
*tuan
besar ‘Renn’)
Begitulah pesan singkat dari Renn yang membuat Ai
tersenyum tipis ketika membaca ‘tuan besar Renn’. Dia terus menghapus air matanya “Renn-chan
aku berjanji akan memulai kehidupan baru lagi, tetapi kamu harus berjanji ya
akan selalu disisiku” gumam Ai menatap tubuh Renn yang sudah membeku itu
“un un” angguk Renn menyetujuinya. “Ai-chan bertapa
manisnya dirimu jika tersenyum” gumam Renn ikut tersenyum ketika melihat
senyuman Ai
END FLASH BACK ~
***
“Ai-chan, kenapa kamu masih memakai kalung itu, bukan
kamu sudah janji akan melupakanku?” tanya Renn berbaring disamping Ai yang
tertidur pulas, “ini semua salahku” gumamnya lagi setelah berpikir-pikir
tentang suratnya yang dia tulis secara asal-asalan tetapi itu merupakan kata
hatinya, dia ingin sekali menyentuh wajah Ai tetapi tidak bisa
***
Beberapa hari kemudian, Ai harus menyiapkan seluruh
barang-barangya untuk pindah sekolah. dia ditunjuk sebagai salah satu murid
yang melakukan program pertukaran murid disekolahnya. Dia akan ditukarkan
dengan salah satu murid disekolah ter elite di tokyo
Pagi yang cerah mengawali hidup baru Ai disekolah
barunya. “Ohayou Minna-san, watashi wa Yaotome Ai desu” ucapnya membungkuk. Dia
terlihat sangat senang karena murid dikelasnya barunya sangat ramah-ramah
ketika dia akan mengangkat kepalanya dia hampir terjatuh karena seseorang dari
belakang telah menabraknya dengan sengaja. Ai hanya terdiam menatap laki itu berjalan
menuju sebuah meja kosong dan duduk sewenang-wenangnya tanpa berminta maaf
kepadanya.
“takaki-san, ini sudah keberapa kalinya kamu telat?”
tanya sensei yang berdiri disamping Ai
Laki yang dipanggil Takaki itu tidak berkata apa-apa dia
hanya tersenyum cuek dan memasukan dua butir permen karet kedalam mulutnya.
“Takaki-san! Sudah ku tegur berapa kali jika tidak boleh
memakan permen karet disekolah?” seru sensei itu terlihat sangat marah
Laki yang dipanggil Takaki itu pun mengerutkan keningnya
setelah mengunyah beberapa kali permen karet yang ada didalam mulutnya dia
langsung membuangnya dilantai. Dia menaikkan tangannya kirinya keatas meja
untuk menopang dagunya tetapi pandangannya tidak kabur. Tatapannya terlihat
sangat dingin.
”Takaki-san, tidak bo..” kata-kata sensei pun terpotong
”Takaki-san, tidak bo..” kata-kata sensei pun terpotong
“oy! Omae! Aku sudah menurutin semua kata-kata kau jadi
jangan bawel!” ucap laki itu kepada sensei
Sensei yang berdiri disebelah Ai pun menghela napas,
“yasudah Yaotome-san, silakan kamu duduk dibangku kosong depan Takaki” tunjuk
Sensei sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi karena Takaki merupakan murid
yang paling bermasalah disekolahnya
“yasudah mari kita mulai pelajaran hari ini” ucap sensei
mulai membuka buku dan mengambil sebatang kapur diatas meja setelah itu dia
mencoret-coret beberapa bilangan-bilangan diatas papan hijau
“siapa perempuan ini? Kenapa disampingnya berdiri seorang
laki-laki berpakai baju putih dan bersayap?” batin Takaki kembali memasukan
beberapa butir permen karet kedalam mulutnya sambil memandang Ai dari belakang
dengan seksama
***
"Oi Yuya" panggil seorang ketua yakuza menghampiri yuya
bersama beberapa anak buahnya
"Nani?" Tanya Yuya cuek dia duduk bersenderan ditembok kusam
tempat mereka berkumpul
"Apa kamu mau mencoba ini?" Tanya Yakuza itu mengeluarkan
sekotak rokok
Yuya pun mengangkat kepalanya menatap Yakuza itu "gomen, aku tidak
berminat" tolaknya langsung berdiri dari tempatnya dan berjalan pergi
meninggalkan para Yakuza itu
"Oi Yuya!!" Teriak Yakuza itu berlari menghampiri Yuya dan
menarik tangan Yuya dengan kasar
"Kau harus mencobanya, ini sangat enak" tawar Yakuza itu lagi
sengaja mengoda Yuya.
"Kamu mau ini?" Tawar Yuya kembali sambil mengeluarkan sekotak
permen karet. "Aku rasa ini lebih enak dari pada itu" lanjutnya
membuka kotak itu dan mengeluarkan butir permen karet dari dalamnya. Walaupun
Yuya anak yang rusak tetapi dia menguatkan dirinya untuk tidak menyentuh
barang-barang aneh seperti itu.
"Kau!" Seru Yakuza itu merasa diremehkan oleh Yuya. Yuya
memalingkan mukanya menatap Yakuza itu "jika tidak ada apa-apa aku mau
kembali dulu" gumamnya mau berjalan pergi
Ai yang baru keluar dari Super Market dan membawa dua kantong bahan
makanan maupun cemilan berhenti melangkah ketika melihat sosok yang baru dia
kenal tadi pagi dihadapannya
"Kau meremehkanku?" Tanya Yakuza itu langsung menonjok pipi
Yuya.
Yuya yang mundur beberapa langkah karna ditonjok langsung mengusap pinggir bibirnya yang sudah berdarah
dengan pelan lalu dia berpaling menatap Yakuza itu
"Beri dia pelajaran" gumam ketua Yakuza itu menyuruh anak
buahnya untuk menyerang Yuya
Tentu Yuya tidak tinggal diam, tetapi karna satu melawan begitu banyak
akhirnya dia babak belur
Ai yang masih terbengong menatap Yuya sudah jatuh kelantai pun langsung
berlari menghampiri Yuya, dia menjatuhkan dirinya keatas tubuh Yuya ketika
Yakuza itu akan memukul Yuya dengan kayu. Yakuza itu terlihat kaget dia
mengangkat kayunya kembali sebelum mengenai tubuh Ai " dasar laki-laki
lemah, hanya dapat berlindung dengan wanita" gumam Yakuza itu membuang
kayunya dan berjalan pergi bersama anak buahnya
"Kamu tidak kenapa-napa kan?"
Tanya Ai bangun
dari tubuh Yuya dan dengan sekuat tenaga membangunkan Yuya yang sudah lemes
Yuya yang sudah terduduk langsung menangkis tangan Ai "buat apa kau
disini?" Tanyanya menunduk, dia tidak berani menatap Ai karna baru pertama
x dia harus berlindung kepada wanita
"A..aku hanya panik melihat orang itu ingin memukulmu dengan
kayu" jelas Ai gagap sambil melihat kayu yang berada didekat yuya
"Jika dia memukulku juga tidak ada urusan denganmu!" bentak
Yuya kasar
Ai pun terdiam, baru pertama x dia dibentak sekasar itu
Yuya ikut terdiam, ia memalingkan
mukanya menatap Ai, ia menunduk kembali dan berusaha berdiri tetapi kakinya
tidak kuat, Ai langsung mengulungkan tanganya untuk menopang Yuya tetapi Yuya
langsung mendorong Ai sehingga Ai mundur beberapa langkah
"Sudah ku bilang bukan urusanmu!!" Bentak Yuya lagi
"Setidaknya kamu harus berobat dulu" tegur Ai pelan dia
terlihat pedih melihat luka-luka Yuya. Ai pun membungkuk mengambil dua kantong
bekas belanjaannya yang tadi dia jatuhkan untuk menolong Yuya. Setelah
membereskan kantong-kantong itu dia kembali menopang Yuya "apartemenku
disekitar sini, mampir dulu saja dulu, aku akan mengobati lukamu" gumam Ai
"Ti.."Kata-kata Yuya terpotong ketika Ai mendorong Yuya untuk
berjalan
"Dia memang perempuan yang baik hati" angguk Renn terkagum
melihat Ai, dia terus mengikuti Ai dan Yuya dari belakang
Yuya memalingkan wajahnya menatap Renn dan kembali menatap Ai
***
Setelah mengobati Yuya, Ai langsung mengambil kotak p3k kembali ke
kamarnya
"Kenapa kamu mengikutinya?" Tanya Yuya masih sibuk melihat
luka yang dibalut rapi oleh Ai
Renn terlihat bingung menatap kiri kanan mencari tau Yuya sedang
berbicara dengan siapa tetapi anehnya tidak ada seorangpun disana dan Ai juga
tidak ada disana. Yuya mengangkat kepalanya pelan dan menantap Renn dingin
seperti biasa dia menatap orang-orang
"Ore?"
Tunjuk Renn pada
dirinya sendiri, dia terlihat sangat polos seperti bidadari tidak berdosa
"Jika tidak? Memangnya selain kau diruangan ini ada siapa
lagi?" Ketus Yuya
"Kau dapat melihatku?" Tanya Renn terkaget ,dia tidak
menghiraukan kata-kata Yuya tadi
"Ya" jawab Yuya singkat lalu dia kembali bersenderan disofa,
ia sudah berasa bahwa itu adalah rumahnya
"Sugoii" gumam Renn terkagum-kagum
Yuya pun menghela napas "kau belum menjawab pertanyaanku"
gumamnya melirik Renn
"Kamu tanya apa memangnya?" Tanya Renn masih tampang polos dan
membuat Yuya menghela napas sekali lagi
"Kau kenapa terus mengikuti perempuan itu?" Tanya Yuya mengulang
pertanyaannya dengan pelan karna dia tidak ingin kedengaran oleh Ai
"Ou.. Dia pa.." Kata-kata Renn terpotong ketika Ai berjalan
keluar membawa sup hangat dari dapur
Yuya mengangkat salah satu alisnya "bukan tadi dia berjalan
kekamar?" Batinnya bingung
"Hai! Douzo! Gomen ini baru aku panasin lagi, aku rasa kamu belum
makan jadi makanlah" tawar Ai terlihat ramah walaupun Yuya bersikap galak
terhadapnya
Yuya pun merilik sup yang ada dihadapannya lalu menatap kearah Renn lagi
"Dia memang bidadariku, oh my angel baik sekali kamu" gumam
Renn terkagum-kagum. Renn yang sadar telah diperhatiin Yuya dari tadi pun
tersipu malu "makanlah" tawar Renn
kembali serius
Yuya dengan ragu-ragu mengambil sendok dan meminum sedikit sup itu lalu
kembali menatap Renn
"Bagaimana? Enakan masakan Ai?" Tanyanya Renn dengan bangganya
"Bagaimana?" Tanya Ai berharap Yuya menyukainya
"Aku sudah kenyang sekarang
aku mau pulang dulu" gumam Yuya
berdiri dan berusaha berjalan sampai kedepan pintu
"Apa masakanku tidak enak" gumam Ai sedih melihat mangkuk sup
yang masih penuh itu lalu dia menatap kearah Yuya "biar aku bantu"
tawanya kembali menopang Yuya, Yuya langsung menyingkirkan tangan Ai "aku
bisa sendiri" gumam Yuya dingin. Dia membuka pintu apartemen Ai dan
berjalan keluar tanpa pamitan
"Benar-benar keras kepala" gumam Renn menyimpulkan
***
didalam kelas semua murid sudah duduk manis sambil memerhatikan sensei
biologi menjelaskan pelajaran didepan kelas.
Tetapi berbeda dengan Ai. Dia terus melihat ke belakang
"Kenapa dia masih belummasuk? Apa karna lukanya?" Batin Ai
"Ai-chan" geleng Renn yang duduk dimeja Yuya tepat didepan Ai
"kamu itu terlalu baik" gumamnya dapat melihat jelas jika Ai sedang
mengkhawatirkan Yuya. Renn pun menurunkan kedua tangan yang digunakannya untuk
menopang dagunya ketika melihat Yuya berjalan masuk, tanpa basa basi terlebih
dahulu kepada Sensei yang sedang menjelaskan didepan Yuya langsung berjalan
kearah tempat duduknya
"Takaki-san!" Panggil sensei perempuan itu terdengar lembut.
Yuya menghentikan langkah kakinya dan menengok kearah sensei
"Kamu kenapa telambat lagi?" Tanya sensei biologi itu jauh lebih lembut dibanding sensei
matematika mereka "gomen" gumam Yuya kembali melanjutkan langkahnya.
Sensei itu pun tersenyum dan kembali membahas pelajaran
"Ternyata kamu tidak terlalu keras kepala juga jika dihalusin"
gumam Renn menantap Yuya. Yuya hanya terdiam melirik Renn duduk diatas mejanya
"Apa kau bisa minggir?" Bisik Yuya
"Oh! Hai! Gomen ne" gumam Renn langsung berdiri
"Ternyata Yuya-san bukan seseorang yang total memiliki sifat jelek
seperti bayanganku" batin Ai sambil memainkan bulpennya tetapi dia tidak
berani menenggok kearah Yuya. "Renn-chan" batin Ai kembali mengingat
Renn ketika melihat dua cincin dilehernya "aku jadi kangen denganmu yang
keras kepala dan seenakmu sendiri" batin Ai terbengong
FLASHBACK~
"Oi! Pesuruh ku! Siapkan makanan untukku, aku lapar " perintah
Renn yang asik-asikan membaca majalahnya sambil ngemil
"Hai! Tuan besar" gumam Ai gergetan karena hari ini Renn
menyuruhnya datang kerumahnya hanya untuk memasakan makanan untuknya dan
membereskan rumah Renn yang kotor seperti gudang tidak terpakai karena Renn
baru pulang dari Paris
"Bagus-bagus" angguk
Renn senang. Ai langsung melirik Renn dengan sinis "awas kamu Renn-chan!!"
batinnya berjalan kedapur
Setelah memotong semua sayuran-sayuran Ai pun menyelupkannya kepanci air
yang sudah mendidih dia memberikan berbagai perasa agar enak tetapi ketika dia
mengingat Renn memperlakukannya sebagai pembantu,dia pun terlihat kesal dia
terus menuangkan sebotol garam yang ada ditanganya “siap mati kau Tuan besar”
gumam Ai tersenyum jail “ah, sudah abis” gumamnya ketika garam tidak mau keluar
lagi dari botol itu.
Setelah selesai masak Ai pun mengambil panci itu keluar keruang tamu
tempat Renn menjadi tuan besar
“ini Tuan Renn” gumam Ai menaruh sepanci sup yang masih panas itu. Lalu
Renn menaruh majalahnya dan ingin mengambil sendok disamping panci itu tetapi
dia melirik Ai yang sedang cengar cengir tidak jelas dia pun mengurungkan
niatnya
“Ai-chan, kamu pasti sudah lelah dan lapar, sini kamu makan duluan biar
aku suapin” tawar Renn tersenyum manis
“eh? Makan sup itu? Makasih! aku masih mau hidup” batin Ai terkaget
“Etto, tuan besar Renn tidak perlu, ini aku masak sepenuh penuh cinta untuk mu
jadi kamu harus menghabiskannya” tolak Ai tersenyum manis
Renn pun menatap sup itu lalu kembali mengangkat kepala melihat ke Ai
“sini kamu cobain duluan, aku tidak ingin memakan sup yang tidak enak”
ceplos Renn.
“kenapa harus aku yang jadi tikus percobaan sup mematikan ini duluan?”
batin Ai, Ai pun mengambil sendok dan mengambil sup itu sedikit, dia kemudia
meminumnya dengan pelan-pelan “benar-benar mematikan” batinnya berusaha menahan
ekspresi yang ngak-ngak agar Renn mau memakan sup itu
“sudah ku coba, rasanya enak sekali karena ini memang dimasak dengan
penuh cinta Tuan besar Renn” gumam Ai yang memastikannya
Melihat Ai yang penuh kepastian, Renn pun mengambil sendoknya dari
tangan Ai lalu dia mengangkat mangkuknya dan menengguknya supnya terlebih
dahulu. Dia langsung menyemburkan kuahnya “ ehek..Ai-chan!! Ini yang namanya
penuh cinta? Ehek.. ehekk” teriak Renn terus batuk-batukan, dia merasa sangat
keasinan
Ai pun ketawa ngakak melihat ekspresi Renn.
“Ai!” seru Renn menarik tangan Ai sehingga Ai terjatuh kedalam pelukan
Renn. Ai berhenti ketawa dan terlihat bingung ketika Renn memeluknya
“Ai kamu jahat” gumam Renn mulai mengelitik pinggang Ai
“aa! Renn-chan! Berhenti!!” pinta Ai kegelian dia tidak dapat kabur
karena sudah lemes kegelian “Renn!!” teriak Ai terus ketawa kegelian
“rasakan” gumam Renn tertawa senang dan tangannya tidak berhenti untuk
mengelitik pinggang Ai
Ai pun berusaha untuk mengelitiki kembali Renn sekarang malah jadi Renn
yang kegelian “Ai…Ai-chan su..su,,sudah!” gumam Renn merasa kegelian
END FLASHBACK~
“Yaotome-san” panggil sensei itu membuyarkan lamuan Ai
“eh? Hai? Ada
apa sensei?” Tanya Ai polos
Semua murid didalam kelas pun tertawa lucu kecuali Yuya yang menatap Ai
dengan dingin. Sensei pun menghela napas dan menanyakan soal didepan papan kepada
Ai.
***
Ai memiliki kebiasaan untuk memakan bekalnya ditaman
“itadakimas” gumamnya duduk dibawah rumput-rumputan
Yuya yang memiliki kebiasaan tidur dibangku taman ketika
israhat pun terbangung ketika mendengar suara itu. Dia mengangkat kepalanya
sedikit untuk mencari sumber suara tersebut dan menemukan Ai yang sedang makan
didekat sana “dasar perempuan aneh, memangnya tidak bisa makan di dalam kelas?”
batin Yuya menyipitkan matanya lalu kembali tiduran
“Renn-chan” gumam Ai tiba-tiba berhenti makan dia menaruh
bekalnya diatas pangkuannya lalu menghela napas mengingat kenangan-kenangan
bersama Renn
FLASHBACK~
“Renn-chan!!” teriak Ai ketika Renn tidak sengaja membuat
omelet yang sedang dimasak Ai gosong
“nani?” tanya Renn dengan polosnya
“kau menghancurkan makan malam kita!!” seru Ai kesal dia
cepat-cepat meminggirkan Renn dan buru-buru mengangkat omelet itu dari wajan
“bukan enak juga jika makan gosong-gosong?” gumam Renn
sambil berpikit polos. Ai menatap Renn dengan tajam lalu menghela napas
“dasar Tuan besar Baka” gumam Ai menaruh omelet itu
dimeja makan
“baka janai” gumam Renn mengikuti Ai dari belakang
END FLASHBACK~
“Ai-chan! bukan kamu sudah berjanji akan melupakan
kenangan kita?” seru Renn yang membuat Yuya kembali terbangun menatapnya
“ada apa dengan hubungan mereka?” batin Yuya bingung
***
"Oi!" Panggil Yuya terdengar galak
Ai tersadar dari lamunannya dan mencari sumber suara itu,
dia menemukan Yuya yang duduk diatas kursi seperti mafia "Yuya-kun"
panggilnya pelan
"Bisakah kau jangan berisik?" Tanya Yuya menatap Ai dan Renn
secara bergantian
"Aku tidak ribut" gumam Ai acuh tak acuh
Yuya pun terdiam menatap ke Renn yang sedang berdiri menatap Yuya sambil
meminta-minta agar Yuya tidak memarahin Ai. Yuya pun menghela napas dan berdiri
dari tempat duduknya lalu dia berjalan menghampiri Ai
"Kau ada roti?" Tanyanya
"Hai" jawab Ai sedikit gugup karna dia tidak mengerti Yuya
kenapa tiba-tiba meminta roti apa dia sudah kelaparan?
"Arigatou" gumam Yuya mengambil roti itu dan berjalan pergi
Setelah Yuya pergi, Ai buru-buru menyimpan kotak bekalnya dan mengikuti
Yuya dari belakang. Dia sangat penasaran dengan tingkah Yuya yang misterius
atau kata lainnya aneh
"Hai, douzo" gumam Yuya tersenyum "makannya pelan-pelan
saja ya" gumam Yuya lagi
"Ternyata walaupun kasar tetapi hatinya baik ya" batin Ai yang
sedang memerhatikan Yuya menyuapi seekor anak anjing "tidak seperti
Renn" gumamnya teringat dengan kelakuan Renn
FLASHBACK~
"Kasihan anak anjing itu" gumam Ai yang sedang jalan-jalan
berdua dengan Renn di taman, dia menemukan seekor anak anjing yang sedang sakit
"Renn-chan" panggil Ai mengibaskan tangannya agar Renn cepat berlari
kearahnya
"Doshite?" Tanya Renn mengerutkan keningnya ketika melihat Ai
mengendong seekor anak anjing
"Kasihan anak anjing ini, sepertinya dia sakit" gumam Ai
"Lalu apa hubunganya dengan kita?" Tanya Renn bingung
Ai pun menghela napas "yuk kita bawa dia periksa ke dokter"
ajak Ai berdiri sambil mengendong anak anjing itu
"Ai!!" Teriak Renn tidak setuju tetapi Ai tidak menghiraukan
Renn dia terus berjalan pergi
Setelah sampai dirumah
"Menyusahkan saja" gumam Renn kesal
"Renn-chan, tidak ada salahnya kita menolong anak anjing ini,
kasihan dia sudah demam" gumam Ai yang sedang mengendong anak anjingnya
"Aku tidak suka" gumam Renn memanyunkan mulutnya. Dia
melemparkan kunci pintu rumahnya keatas meja lalu menjatuhkan badannya keatas
sofa
"Doshite? Lihat dia begitu imut" senyum Ai sambil mendekatkan
anak anjing itu kedekat Renn dengan sengaja
"Sudah bawa pergi!! Aku tidak suka" perintah Renn menyingkirkan
tangan Ai
"Baka" gumam Ai duduk disofa dekat Renn
"Oh ya Renn-chan, sepertinya aku tidak dapat membawanya pulang
kerumah jadi aku nintip dirumahmu ya" pinta Ai sambil memelas
"Nani?!!" Tanya Renn terkaget "aku tidak mau dan tidak
akan mau!!!" Seru Renn
"Ayolahh Renn-chan" pinta Ai terus menerus
END FLASHBACK~
"Omae!!" Teriak seorang yang menyadarkan Ai
"Ne? Doshite?" Tanya Ai dengan polosnya
"Kerjaan kau selain melamun apa lagi?" Tanya Yuya sedikit
menyindir
"Gomen" gumam Ai
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Yuya
"Aku? Disini? Ettoo.. Ano... Daijoubu desu" senyum Ai tanpa
dosa
Yuya pun menghela napas lalu kembali menyuapin anak anjing itu
"Boleh aku pegang anak anjingnya?" Tanya Ai
"Ya" angguk Yuya ragu-ragu
"Wuah lucu sekali" gumam Ai langsung memeluk anjing itu
"siapa namanya?" Tanya Ai menatap Yuya. Yuya hanya mengangkat bahu
"Kamu tidak menamainnya?" Tanya Ai
"Iie" gumam Yuya mengigit roti yang ada ditangannya
"Hm.. Bagaimana kalo kita namakan Renn" gumam Ai
"Apa?!!" teriak Renn kaget
"Renn?" Gumam Yuya ikut terkaget lalu memalingkan wajahnya
menatap Renn
"Nama yang bagus bukan?" Tanya Ai tersenyum senang
"H..ha..hai" angguk Yuya acuh tak acuh
"Ai-chan,, kamu jahat!! Kenapa menamakan anak anjing itu pakai
namaku?" Bentak Renn tidak menerimannya
"Renn-chan, kawaii nee" gumam Ai mengangkat anak anjing itu
lalu menciumnya
"Aku disini Ai-chan, kenapa kamu mengangapku itu anak anjing kumel
itu?" Tanya Renn kesal
"Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?" Batin Yuya
benar-benar tidak mengerti
***
"Kenapa dia selalu bersifat cuek seperti begini ketika disekolah?
Padahal dia cukup baik"batin Ai ketika melihat Yuya mulai buat onar
didalam kelas lagi
Renn menghela napas, dia bersenderan dimeja seberang meja Yuya sambil
melihat Yuya yang sedang mencaci maki gurunya "indahnya anak jaman
sekarang" gumamnya mengeleng,tanpa menyadari jika dia sendiri juga masih
muda
*Dubrakk
Suara kursi yang baru ditendang Yuya pun membuat suasana terdiam hening
menatap dia
"Jangan sekali-kali membuatku emosi" ucapnya menatap tajam
senseinya dan berjalan keluar kelas
Setelah berjalan ketaman Yuya
langsung menonjok pohon yang didepan hadapannya
"Apakah sikapmu itu pantas untuk seorang pelajar?" Tanya
seseorang yang menghampiri Yuya.
"Bukan urusanmu" gumam Yuya menatap Renn
"Kenapa bukan urusanku?hanya kau saja yang dapat melihatku bukan?
Jadi kita itu temen" jelas Renn sok dekat
"Siapa teman mu? Jangan sok akrab" ketus Yuya dingin
"Kau benar-benar keras kepala" gumam Renn melipat kedua
tangannya didepan dada dan mengeleng-gelengkan kepalanya
Yuya tidak menghiraukan kata-kata Renn dia berjalan beberapa langkah
menuju bangku taman
"Kenapa kamu selalu bersikap dingin terhadap orang-orang? Aku tau
itu bukan sifat aslimu" gumam Renn menjadi serius dia menghampiri Yuya dan
duduk disebelah Yuya.
"Bukan urusanmu" gumam Yuya lagi
"Hey! Kau!" Teriak Renn kesal "bagaimana aku bsa tenang menyerahkan Ai-chan ke kamu jika sikapmu
sedingin es batu" gumam Renn yang hanya dapat didengar oleh dirinya
sendiri
"Apa katamu?" Tanya Yuya yang mendengar Renn ngoceh tidak
jelas
"Iie..iie.daijoubu desu" nyengir Renn
"Apa hubungan kau dengan perempuan itu?" Tanya Yuya menatap
lantai dengan tatapan kosong
"Siapa? Ai-chan?" Tanya Renn langsung menatap Yuya
"Un" angguk Yuya melipat kedua tangannya didepan dagunya
Renn menjadi terdiam
"Dia pacarku" gumamnya menunduk
"Pacarmu?" Tanya Yuya terkaget
"Un" angguk Renn sekali lagi
"Kenapa kamu mengikutinya? Bukan kau seorang shinigami?"Tanya
Yuya
"Oi! Aku bukan shinigami tetapi angel, mengerti kamu?" Tanya
Renn tidak menerima jika dia dipanggil malaikat pencabut nyawa
"Sama saja yang penting kau sudah mati" ketus Yuya
"Apa kata mu?!" Tanya Renn mengamuk
"Bukan itu kernyataan?" Tanya Yuya menatap Renn
"Iya juga" angguk Renn menyetujui
"Jadi kenapa kau mengikutinya?" Tanya Yuya kembali ke topik
"Hm.. Aku ingin mencarikan
seorang yang benar-benar dapat melindungi ai-chan" gumam Renn
menundukan kepalanya "dan orang itu adalah kamu" lanjutnya menatap
Yuya dengan serius
"Ore?"
Tanya Yuya terkaget
"Un" angguk Renn memastikan
"Siapa aku siapa kau, seenak jidat kau menyuruhku melindungi
perempuan itu?" Tanya Yuya tidak menerima
"Aku mohon, aku tau ini sangat berat, tetapi ini demi Ai, aku ingin
dia memulai kehidupan baru bukan terkurung dalam kenang kami berdua"
cerita Renn
"Aku rasa hidup dia sangat ceria" gumam Yuya yang tau Ai
selalu ceria didepannya
"Iya, memang dia menuruti kata-kataku tetapi tidak sepenuhnya, dia
masih selalu memikirkanku" jelas Renn sedih
"Itu si urusan kalian" gumam Yuya bangun dan berjalan pergi
meninggalkan Renn
"Yuya-kun.. Yuya.." Panggil Renn tetapi Yuya tidak
menghiraukannya
"Kenapa sikapnya seperti ini" gumam Renn menghela napas
To Be Cont..
Apa ada yang mau tau bagaimana anak anjing dirumah Renn?
FLASHBACK ~
"Kenapa anjing jelek ini harus tinggal dirumahku?"Gumam Renn
menatap tajam anak anjing didepan hadapannya itu setelah Ai pulang
"Hey kau jelek!! Sana
pergi!! Jangan tidur disofa ku" usir Renn
Anak anjing itu melihat Renn dengan malas lalu kembali tidur dan membuat
Renn emosi
"Kau!! Awas aku!!" Gumam Renn menatap kiri kanan mencari
sesuatu, dia pergi mengambil sebuah kardus kecil lalu memasukan anak anjing itu
kedalamnya "jangan macam-macam kau!!" Gumamnya menaruh kardus itu
didekat pintu masuk, setalah itu dia kembali keruang tamu dan menjatuhkan
dirinya dengan malas keatas sofa "melelahkan" gumamnya menghela napas
dan berusaha mengambil remote tv yang berada tepat diatas meja. Renn pun mulai
menonton drama. Tanpa sadar dia melihat kearah anak anjing yang sedang mau naik
keatas sofa dan kembali nonton, tidak berapa lama dia baru tersadar jika anak
anjing itu sudah tidur disofannya
"Kenapa dia muncul lagi? Dasar kau anjing jelek!!" Serunya
kesal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar