Halaman

Jumat, 25 Mei 2012

New Day (Part 1)


Title:New Day
Cast:  
-Ai Yaotome
 -Yuya Takaki
             -Renn Kiriyama
Gengre : i dont know but maybe Romance (?)
Part 1

“Sayonara Renn-chan” gumam Ai pelan, ia terus membereskan semua barang dari Renn dan menyimpannya disebuah kotak kubus “aku akan menyimpan semua kenanganmu dihatiku dan akan memulai lembaran baru, sesuai janjiku padamu” batin Ai terus menahan air matanya. Dia menatap ke arah meja belajarnya dan menemukan dua cincin terukir namanya ‘  Ai’ dan ‘Kiriyama Renn’ lalu dia mengambil dan memasukannya kesebuah kalung polos  memakainya. “ini adalah kenangan kita berdua” gumamnya terus memegang kalung yang telah menghias lehernya. Setelah itu dia kembali membereskan semua barang-barang dari Renn.

*FLASH BACK~
“Ai” panggil Renn pelan. Ai yang baru masuk keruang inap Renn terdiam menatap kearah Renn yang berbaring lemas diatas kasur.
“mukanya semakin pucat” batin Ai lalu melanjutkan langkahnya mendekati Renn
“Renn-chan, bagaimana? Apakah agak baikan?” tanya Ai yang tentu sudah tau jelas jawabannya sesunggunya kondisi Renn yang semakin parah. Tetapi Ai menguatkan dirinya agar tetap ceria didepan Renn, dia tidak ingin Renn merasa terbeban karena Ai
“lumayan” gumam Renn tersenyum kepada Ai
“Yokatta ne” gumam Ai memalingkan wajahnya dan menaruh sekantong plastik berisi makanan-makanan kesukaan Renn
”Ai” panggil Renn langsung menarik Ai sekuat tenaga yang dia miliki sekarang dan membuat Ai terjatuh pada pelukannya
“Renn-chan, doshite?” tanya Ai kaget. Dia tidak mengerti sama sekali kenapa Renn memeluknya tiba-tiba
“jangan bergerak” bisik Renn. Ai pun terdiam menuruti kemauan Renn
“jika aku sudah tidak ada, berjanjilah untuk memulai kehidupan baru dan lupakan aku” bisiknya tersenyum
“urusai!” teriak Ai pelan. Rasanya dia ingin sekali langsung menampar atau memukul Renn karena perkataan bodohnya tetapi dia tidak dapat melakukannya dia takut melukai Renn.
“diamlah” bisik Renn yang tidak menghiraukan kata Ai “berjanjilah Ai-chan, karena waktuku tinggal sedikit” lanjutnya yang membuat Ai membatu
“Ai-chan, berjanjilah, aku mohon” pinta Renn lagi yang membuat Ai tidak dapat memberontak sama sekali. Ai pun tidak dapat menahan air matanya lagi. Dia mengangguk pelan “aku berjanji” bisiknya lemas.
Renn pun tersenyum dan melepaskan pelukannya “kamu beli apa saja? Mana apelku? Pasti kamu lupa membelinya lagi kan?” tebak Renn mengalihkan pembicaraan
“oh ya! Aku lupa “ nyegir Ai tanpa dosa. Dia memang sering lupa membeli apel madu kesukaan Renn
“baka! sudah sana cepat pergi beli! Aku ingin memakannya sekarang!” seru Renn sok galak
“Hai! Hai tuan besar” gumam Ai membungkuk dan membuat Renn tertawa
“aku pergi beli dulu ya” lanjut Ai langsung berlari keluar
“pilih yang benar ya! Awas jika tidak manis!” teriak Renn memperingati
Setelah Ai keluar, Renn pun kembali berbaring “ Sayonara Ai-chan, mungkin ini detik-detik terakhirku” gumam Renn tersenyum dan menutup matanya pelan

***
*duakhh
“ittai” rintih Ai yang terjatuh “aneh sekali, padahal aku tidak tersandung tetapi kenapa bisa jatuh?” gumamnya terlihat bingung sambil menatap sekitarnya “sudahlah, sebaiknya aku cepat pergi beli sebelum Renn-chan mengoceh panjang kali lebar” gumam Ai langsung berdiri dan lanjut berlari
Setelah membeli apel kesukaan Renn, Ai pun buru-buru berjalan kembali menuju rumah sakit.
“ada apa? Kenapa banyak suster yang keluar dari ruangan Renn-chan?” gumam Ai terlihat bingung dia langsung berlari kearah ruangan “kenapa itu? Kenapa Renn-chan menutup dirinya dengan kain putih? Apa aku salah ruangan?” batin Ai mundur beberapa langkah dan melihat kedinding depan kamar inap Renn yang jelas-jelas tertulis nama ‘Kiriyama Renn’
“tidak mungkin!” gumam Ai menjatuhkan kantong yang berisi apel kesukaan Renn itu. dia langsung berlari kearah tempat Renn berbaring dan membuka kain putih itu. tangannya terlihat sangat gemetaran. Dia berharap orang itu bukanlah pacarnya, tetapi ketika melihat jelas orang yang sudah berbaring tak berdaya diatas kasur itu adalah Renn, air mata pun tidak dapat ditampung lagi, badannya melemas seakan tidak punya tulang. Dia terjatuh sambil menangis keras, dadanya terasa sangat sesek “kenapa?! Kenapa kamu tega meninggalkanku?” gumamnya
“Ai-chan, kenapa kamu menangis? aku ada disini” ucap seorang laki-laki yang baru masuk keruangan dan berjalan mendekati Ai, dia ingin mengelus kepala Ai tetapi tidak bisa, tubuhnya bagaikan bayangan “kenapa? Kenapa ini?” tanyanya pada diri sendiri lalu dia terdiam ketika melihat badannya sendiri didepan mata“apakah aku benar-benar sudah pergi?” batinnya lalu dia menengok kearah kiri menatap dirinya sendiri dijendela, punggung terlihat memiliki dua sayap putih yang indah “kenapa aku memiliki sayap? Tetapi ini sangat indah” batinnya tersenyum senang melihat sepasang sayap indah melekat pada punggungnya lalu dia kembali teringat pada Ai yang masih menangis didekat badannya yang sudah berbaring tidak berdaya “bagaimana ini?” gumamnya bingung melihat Ai yang terus menangis tetapi dia tidak dapat melakukan apapun “Ai! Kamu bukan sudah berjanji akan memulai kehidupan baru tetapi..” kata-kata Renn pun terpotong ketika dia melihat dua buah cincin yang jatuh dari badannya yang sudah tidak berdaya itu. Dia hanya terdiam melihatnya saja karna dia tau dia tidak dapat berbuat apa-apa

***
Ai pun berhenti menangis dia mengangkat kepalanya dan mencari tahu apa yang terjatuh tadi. Dia menemukan dua buah cincin yang terukir nama mereka berdua dibawah kasur tepat dia bawah tangan Renn, dia pun membersihkan air mata yang membasahi mukanya dan mengambil surat yang di pegang Renn.

(Ai-chan mungkin ketika kamu membaca surat ini aku sudah tidak bernapas lagi. Haha, jangan menangis lagi ya Ai-chan, kamu kan sudah berjanji padaku akan memulai kehidupan baru, awas jika aku lihat kau menangis demi ku akan ku cubit pipi mu sampai biru-biru. dan jika kamu menanyakan kenapa aku tau kamu menangis karna aku akan selalu disisimu sampai kamu mendapat orang yang benar-benar pantas untuk dirimu ai-chan
                                                                        *tuan besar ‘Renn’)
Begitulah pesan singkat dari Renn yang membuat Ai tersenyum tipis ketika membaca ‘tuan besar Renn’.  Dia terus menghapus air matanya “Renn-chan aku berjanji akan memulai kehidupan baru lagi, tetapi kamu harus berjanji ya akan selalu disisiku” gumam Ai menatap tubuh Renn yang sudah membeku itu
“un un” angguk Renn menyetujuinya. “Ai-chan bertapa manisnya dirimu jika tersenyum” gumam Renn ikut tersenyum ketika melihat senyuman Ai

END FLASH BACK ~

***
“Ai-chan, kenapa kamu masih memakai kalung itu, bukan kamu sudah janji akan melupakanku?” tanya Renn berbaring disamping Ai yang tertidur pulas, “ini semua salahku” gumamnya lagi setelah berpikir-pikir tentang suratnya yang dia tulis secara asal-asalan tetapi itu merupakan kata hatinya, dia ingin sekali menyentuh wajah Ai tetapi tidak bisa

***
Beberapa hari kemudian, Ai harus menyiapkan seluruh barang-barangya untuk pindah sekolah. dia ditunjuk sebagai salah satu murid yang melakukan program pertukaran murid disekolahnya. Dia akan ditukarkan dengan salah satu murid disekolah ter elite di tokyo

Pagi yang cerah mengawali hidup baru Ai disekolah barunya. “Ohayou Minna-san, watashi wa Yaotome Ai desu” ucapnya membungkuk. Dia terlihat sangat senang karena murid dikelasnya barunya sangat ramah-ramah ketika dia akan mengangkat kepalanya dia hampir terjatuh karena seseorang dari belakang telah menabraknya dengan sengaja. Ai hanya terdiam menatap laki itu berjalan menuju sebuah meja kosong dan duduk sewenang-wenangnya tanpa berminta maaf kepadanya.
“takaki-san, ini sudah keberapa kalinya kamu telat?” tanya sensei yang berdiri disamping Ai
Laki yang dipanggil Takaki itu tidak berkata apa-apa dia hanya tersenyum cuek dan memasukan dua butir permen karet kedalam mulutnya.
“Takaki-san! Sudah ku tegur berapa kali jika tidak boleh memakan permen karet disekolah?” seru sensei itu terlihat sangat marah
Laki yang dipanggil Takaki itu pun mengerutkan keningnya setelah mengunyah beberapa kali permen karet yang ada didalam mulutnya dia langsung membuangnya dilantai. Dia menaikkan tangannya kirinya keatas meja untuk menopang dagunya tetapi pandangannya tidak kabur. Tatapannya terlihat sangat dingin.
”Takaki-san, tidak bo..” kata-kata sensei pun terpotong
“oy! Omae! Aku sudah menurutin semua kata-kata kau jadi jangan bawel!” ucap laki itu kepada sensei
Sensei yang berdiri disebelah Ai pun menghela napas, “yasudah Yaotome-san, silakan kamu duduk dibangku kosong depan Takaki” tunjuk Sensei sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi karena Takaki merupakan murid yang paling bermasalah disekolahnya
“yasudah mari kita mulai pelajaran hari ini” ucap sensei mulai membuka buku dan mengambil sebatang kapur diatas meja setelah itu dia mencoret-coret beberapa bilangan-bilangan diatas papan hijau
“siapa perempuan ini? Kenapa disampingnya berdiri seorang laki-laki berpakai baju putih dan bersayap?” batin Takaki kembali memasukan beberapa butir permen karet kedalam mulutnya sambil memandang Ai dari belakang dengan seksama

***
"Oi Yuya" panggil seorang ketua yakuza menghampiri yuya bersama beberapa anak buahnya
"Nani?" Tanya Yuya cuek dia duduk bersenderan ditembok kusam tempat mereka berkumpul
"Apa kamu mau mencoba ini?" Tanya Yakuza itu mengeluarkan sekotak rokok
Yuya pun mengangkat kepalanya menatap Yakuza itu "gomen, aku tidak berminat" tolaknya langsung berdiri dari tempatnya dan berjalan pergi meninggalkan para Yakuza itu
"Oi Yuya!!" Teriak Yakuza itu berlari menghampiri Yuya dan menarik tangan Yuya dengan kasar
"Kau harus mencobanya, ini sangat enak" tawar Yakuza itu lagi sengaja mengoda Yuya.
"Kamu mau ini?" Tawar Yuya kembali sambil mengeluarkan sekotak permen karet. "Aku rasa ini lebih enak dari pada itu" lanjutnya membuka kotak itu dan mengeluarkan butir permen karet dari dalamnya. Walaupun Yuya anak yang rusak tetapi dia menguatkan dirinya untuk tidak menyentuh barang-barang aneh seperti itu.
"Kau!" Seru Yakuza itu merasa diremehkan oleh Yuya. Yuya memalingkan mukanya menatap Yakuza itu "jika tidak ada apa-apa aku mau kembali dulu" gumamnya mau berjalan pergi

Ai yang baru keluar dari Super Market dan membawa dua kantong bahan makanan maupun cemilan berhenti melangkah ketika melihat sosok yang baru dia kenal tadi pagi  dihadapannya

"Kau meremehkanku?" Tanya Yakuza itu langsung menonjok pipi Yuya.
Yuya yang mundur beberapa langkah karna ditonjok langsung  mengusap pinggir bibirnya yang sudah berdarah dengan pelan lalu dia berpaling menatap Yakuza itu
"Beri dia pelajaran" gumam ketua Yakuza itu menyuruh anak buahnya untuk menyerang Yuya
Tentu Yuya tidak tinggal diam, tetapi karna satu melawan begitu banyak akhirnya dia babak belur

Ai yang masih terbengong menatap Yuya sudah jatuh kelantai pun langsung berlari menghampiri Yuya, dia menjatuhkan dirinya keatas tubuh Yuya ketika Yakuza itu akan memukul Yuya dengan kayu. Yakuza itu terlihat kaget dia mengangkat kayunya kembali sebelum mengenai tubuh Ai " dasar laki-laki lemah, hanya dapat berlindung dengan wanita" gumam Yakuza itu membuang kayunya dan berjalan pergi bersama anak buahnya
"Kamu tidak kenapa-napa kan?" Tanya Ai bangun dari tubuh Yuya dan dengan sekuat tenaga membangunkan Yuya yang sudah lemes
Yuya yang sudah terduduk langsung menangkis tangan Ai "buat apa kau disini?" Tanyanya menunduk, dia tidak berani menatap Ai karna baru pertama x dia harus berlindung kepada wanita
"A..aku hanya panik melihat orang itu ingin memukulmu dengan kayu" jelas Ai gagap sambil melihat kayu yang berada didekat yuya
"Jika dia memukulku juga tidak ada urusan denganmu!" bentak Yuya kasar
Ai pun terdiam, baru pertama x dia dibentak sekasar itu
Yuya ikut terdiam, ia  memalingkan mukanya menatap Ai, ia menunduk kembali dan berusaha berdiri tetapi kakinya tidak kuat, Ai langsung mengulungkan tanganya untuk menopang Yuya tetapi Yuya langsung mendorong Ai sehingga Ai mundur beberapa langkah
"Sudah ku bilang bukan urusanmu!!" Bentak Yuya lagi
"Setidaknya kamu harus berobat dulu" tegur Ai pelan dia terlihat pedih melihat luka-luka Yuya. Ai pun membungkuk mengambil dua kantong bekas belanjaannya yang tadi dia jatuhkan untuk menolong Yuya. Setelah membereskan kantong-kantong itu dia kembali menopang Yuya "apartemenku disekitar sini, mampir dulu saja dulu, aku akan mengobati lukamu" gumam Ai
"Ti.."Kata-kata Yuya terpotong ketika Ai mendorong Yuya untuk berjalan
"Dia memang perempuan yang baik hati" angguk Renn terkagum melihat Ai, dia terus mengikuti Ai dan Yuya dari belakang
Yuya memalingkan wajahnya menatap Renn dan kembali menatap Ai

***
Setelah mengobati Yuya, Ai langsung mengambil kotak p3k kembali ke kamarnya
"Kenapa kamu mengikutinya?" Tanya Yuya masih sibuk melihat luka yang dibalut rapi oleh Ai
Renn terlihat bingung menatap kiri kanan mencari tau Yuya sedang berbicara dengan siapa tetapi anehnya tidak ada seorangpun disana dan Ai juga tidak ada disana. Yuya mengangkat kepalanya pelan dan menantap Renn dingin seperti biasa dia menatap orang-orang
"Ore?" Tunjuk Renn pada dirinya sendiri, dia terlihat sangat polos seperti bidadari tidak berdosa
"Jika tidak? Memangnya selain kau diruangan ini ada siapa lagi?" Ketus Yuya
"Kau dapat melihatku?" Tanya Renn terkaget ,dia tidak menghiraukan kata-kata Yuya tadi
"Ya" jawab Yuya singkat lalu dia kembali bersenderan disofa, ia sudah berasa bahwa itu adalah rumahnya
"Sugoii" gumam Renn terkagum-kagum
Yuya pun menghela napas "kau belum menjawab pertanyaanku" gumamnya melirik Renn
"Kamu tanya apa memangnya?" Tanya Renn masih tampang polos dan membuat Yuya menghela napas sekali lagi
"Kau kenapa terus mengikuti perempuan itu?" Tanya Yuya mengulang pertanyaannya dengan pelan karna dia tidak ingin kedengaran oleh Ai
"Ou.. Dia pa.." Kata-kata Renn terpotong ketika Ai berjalan keluar membawa sup hangat dari dapur
Yuya mengangkat salah satu alisnya "bukan tadi dia berjalan kekamar?" Batinnya  bingung
"Hai! Douzo! Gomen ini baru aku panasin lagi, aku rasa kamu belum makan jadi makanlah" tawar Ai terlihat ramah walaupun Yuya bersikap galak terhadapnya
Yuya pun merilik sup yang ada dihadapannya lalu menatap kearah Renn lagi
"Dia memang bidadariku, oh my angel baik sekali kamu" gumam Renn terkagum-kagum. Renn yang sadar telah diperhatiin Yuya dari tadi pun tersipu malu "makanlah" tawar Renn  kembali serius
Yuya dengan ragu-ragu mengambil sendok dan meminum sedikit sup itu lalu kembali menatap Renn
"Bagaimana? Enakan masakan Ai?" Tanyanya Renn dengan bangganya
"Bagaimana?" Tanya Ai berharap Yuya menyukainya
"Aku sudah kenyang  sekarang aku mau pulang dulu" gumam Yuya  berdiri dan berusaha berjalan sampai kedepan pintu
"Apa masakanku tidak enak" gumam Ai sedih melihat mangkuk sup yang masih penuh itu lalu dia menatap kearah Yuya "biar aku bantu" tawanya kembali menopang Yuya, Yuya langsung menyingkirkan tangan Ai "aku bisa sendiri" gumam Yuya dingin. Dia membuka pintu apartemen Ai dan berjalan keluar tanpa pamitan
"Benar-benar keras kepala" gumam Renn menyimpulkan

***
didalam kelas semua murid sudah duduk manis sambil memerhatikan sensei biologi menjelaskan pelajaran didepan kelas.  Tetapi berbeda dengan Ai. Dia terus melihat ke belakang
"Kenapa dia masih belummasuk? Apa karna lukanya?" Batin Ai
"Ai-chan" geleng Renn yang duduk dimeja Yuya tepat didepan Ai "kamu itu terlalu baik" gumamnya dapat melihat jelas jika Ai sedang mengkhawatirkan Yuya. Renn pun menurunkan kedua tangan yang digunakannya untuk menopang dagunya ketika melihat Yuya berjalan masuk, tanpa basa basi terlebih dahulu kepada Sensei yang sedang menjelaskan didepan Yuya langsung berjalan kearah tempat duduknya
"Takaki-san!" Panggil sensei perempuan itu terdengar lembut. Yuya menghentikan langkah kakinya dan menengok kearah sensei
"Kamu kenapa telambat lagi?" Tanya sensei biologi  itu jauh lebih lembut dibanding sensei matematika mereka "gomen" gumam Yuya kembali melanjutkan langkahnya.
Sensei itu pun tersenyum dan kembali membahas pelajaran
"Ternyata kamu tidak terlalu keras kepala juga jika dihalusin" gumam Renn menantap Yuya. Yuya hanya terdiam melirik Renn duduk diatas mejanya
"Apa kau bisa minggir?" Bisik Yuya
"Oh! Hai! Gomen ne" gumam Renn langsung berdiri

"Ternyata Yuya-san bukan seseorang yang total memiliki sifat jelek seperti bayanganku" batin Ai sambil memainkan bulpennya tetapi dia tidak berani menenggok kearah Yuya. "Renn-chan" batin Ai kembali mengingat Renn ketika melihat dua cincin dilehernya "aku jadi kangen denganmu yang keras kepala dan seenakmu sendiri" batin Ai terbengong

FLASHBACK~
"Oi! Pesuruh ku! Siapkan makanan untukku, aku lapar " perintah Renn yang asik-asikan membaca majalahnya sambil ngemil
"Hai! Tuan besar" gumam Ai gergetan karena hari ini Renn menyuruhnya datang kerumahnya hanya untuk memasakan makanan untuknya dan membereskan rumah Renn yang kotor seperti gudang tidak terpakai karena Renn baru pulang dari Paris
"Bagus-bagus" angguk Renn senang. Ai langsung melirik Renn dengan sinis "awas kamu Renn-chan!!" batinnya berjalan kedapur
Setelah memotong semua sayuran-sayuran Ai pun menyelupkannya kepanci air yang sudah mendidih dia memberikan berbagai perasa agar enak tetapi ketika dia mengingat Renn memperlakukannya sebagai pembantu,dia pun terlihat kesal dia terus menuangkan sebotol garam yang ada ditanganya “siap mati kau Tuan besar” gumam Ai tersenyum jail “ah, sudah abis” gumamnya ketika garam tidak mau keluar lagi dari botol itu.
Setelah selesai masak Ai pun mengambil panci itu keluar keruang tamu tempat Renn menjadi tuan besar
“ini Tuan Renn” gumam Ai menaruh sepanci sup yang masih panas itu. Lalu Renn menaruh majalahnya dan ingin mengambil sendok disamping panci itu tetapi dia melirik Ai yang sedang cengar cengir tidak jelas dia pun mengurungkan niatnya
“Ai-chan, kamu pasti sudah lelah dan lapar, sini kamu makan duluan biar aku suapin” tawar Renn tersenyum manis
“eh? Makan sup itu? Makasih! aku masih mau hidup” batin Ai terkaget “Etto, tuan besar Renn tidak perlu, ini aku masak sepenuh penuh cinta untuk mu jadi kamu harus menghabiskannya” tolak Ai tersenyum manis
Renn pun menatap sup itu lalu kembali mengangkat kepala melihat ke Ai
“sini kamu cobain duluan, aku tidak ingin memakan sup yang tidak enak” ceplos Renn.
“kenapa harus aku yang jadi tikus percobaan sup mematikan ini duluan?” batin Ai, Ai pun mengambil sendok dan mengambil sup itu sedikit, dia kemudia meminumnya dengan pelan-pelan “benar-benar mematikan” batinnya berusaha menahan ekspresi yang ngak-ngak agar Renn mau memakan sup itu
“sudah ku coba, rasanya enak sekali karena ini memang dimasak dengan penuh cinta Tuan besar Renn” gumam Ai yang memastikannya
Melihat Ai yang penuh kepastian, Renn pun mengambil sendoknya dari tangan Ai lalu dia mengangkat mangkuknya dan menengguknya supnya terlebih dahulu. Dia langsung menyemburkan kuahnya “ ehek..Ai-chan!! Ini yang namanya penuh cinta? Ehek.. ehekk” teriak Renn terus batuk-batukan, dia merasa sangat keasinan
Ai pun ketawa ngakak melihat ekspresi Renn.
“Ai!” seru Renn menarik tangan Ai sehingga Ai terjatuh kedalam pelukan Renn. Ai berhenti ketawa dan terlihat bingung ketika Renn memeluknya
“Ai kamu jahat” gumam Renn mulai mengelitik pinggang Ai
“aa! Renn-chan! Berhenti!!” pinta Ai kegelian dia tidak dapat kabur karena sudah lemes kegelian “Renn!!” teriak Ai terus ketawa kegelian
“rasakan” gumam Renn tertawa senang dan tangannya tidak berhenti untuk mengelitik pinggang Ai
Ai pun berusaha untuk mengelitiki kembali Renn sekarang malah jadi Renn yang kegelian “Ai…Ai-chan su..su,,sudah!” gumam Renn merasa kegelian

END FLASHBACK~

“Yaotome-san” panggil sensei itu membuyarkan lamuan Ai
“eh? Hai? Ada apa sensei?” Tanya Ai polos
Semua murid didalam kelas pun tertawa lucu kecuali Yuya yang menatap Ai dengan dingin. Sensei pun menghela napas dan menanyakan soal didepan papan kepada Ai.

***
Ai memiliki kebiasaan untuk memakan bekalnya ditaman
“itadakimas” gumamnya duduk dibawah rumput-rumputan
Yuya yang memiliki kebiasaan tidur dibangku taman ketika israhat pun terbangung ketika mendengar suara itu. Dia mengangkat kepalanya sedikit untuk mencari sumber suara tersebut dan menemukan Ai yang sedang makan didekat sana “dasar perempuan aneh, memangnya tidak bisa makan di dalam kelas?” batin Yuya menyipitkan matanya lalu kembali tiduran
“Renn-chan” gumam Ai tiba-tiba berhenti makan dia menaruh bekalnya diatas pangkuannya lalu menghela napas mengingat kenangan-kenangan bersama Renn

FLASHBACK~
“Renn-chan!!” teriak Ai ketika Renn tidak sengaja membuat omelet yang sedang dimasak Ai gosong
“nani?” tanya Renn dengan polosnya
“kau menghancurkan makan malam kita!!” seru Ai kesal dia cepat-cepat meminggirkan Renn dan buru-buru mengangkat omelet itu dari wajan
“bukan enak juga jika makan gosong-gosong?” gumam Renn sambil berpikit polos. Ai menatap Renn dengan tajam lalu menghela napas
“dasar Tuan besar Baka” gumam Ai menaruh omelet itu dimeja makan
“baka janai” gumam Renn mengikuti Ai dari belakang

END FLASHBACK~

“Ai-chan! bukan kamu sudah berjanji akan melupakan kenangan kita?” seru Renn yang membuat Yuya kembali terbangun menatapnya
“ada apa dengan hubungan mereka?” batin Yuya bingung

***
"Oi!" Panggil Yuya terdengar galak
Ai tersadar dari lamunannya dan mencari sumber suara itu, dia menemukan Yuya yang duduk diatas kursi seperti mafia "Yuya-kun" panggilnya pelan
"Bisakah kau jangan berisik?" Tanya Yuya menatap Ai dan Renn secara bergantian
"Aku tidak ribut" gumam Ai acuh tak acuh
Yuya pun terdiam menatap ke Renn yang sedang berdiri menatap Yuya sambil meminta-minta agar Yuya tidak memarahin Ai. Yuya pun menghela napas dan berdiri dari tempat duduknya lalu dia berjalan menghampiri Ai
"Kau ada roti?" Tanyanya
"Hai" jawab Ai sedikit gugup karna dia tidak mengerti Yuya kenapa tiba-tiba meminta roti apa dia sudah kelaparan?
"Arigatou" gumam Yuya mengambil roti itu dan berjalan pergi
Setelah Yuya pergi, Ai buru-buru menyimpan kotak bekalnya dan mengikuti Yuya dari belakang. Dia sangat penasaran dengan tingkah Yuya yang misterius atau kata lainnya aneh

"Hai, douzo" gumam Yuya tersenyum "makannya pelan-pelan saja ya" gumam Yuya lagi
"Ternyata walaupun kasar tetapi hatinya baik ya" batin Ai yang sedang memerhatikan Yuya menyuapi seekor anak anjing "tidak seperti Renn" gumamnya teringat dengan kelakuan Renn

FLASHBACK~
"Kasihan anak anjing itu" gumam Ai yang sedang jalan-jalan berdua dengan Renn di taman, dia menemukan seekor anak anjing yang sedang sakit "Renn-chan" panggil Ai mengibaskan tangannya agar Renn cepat berlari kearahnya
"Doshite?" Tanya Renn mengerutkan keningnya ketika melihat Ai mengendong seekor anak anjing
"Kasihan anak anjing ini, sepertinya dia sakit" gumam Ai
"Lalu apa hubunganya dengan kita?" Tanya Renn bingung
Ai pun menghela napas "yuk kita bawa dia periksa ke dokter" ajak Ai berdiri sambil mengendong anak anjing itu
"Ai!!" Teriak Renn tidak setuju tetapi Ai tidak menghiraukan Renn dia terus berjalan pergi

Setelah sampai dirumah
"Menyusahkan saja" gumam Renn kesal
"Renn-chan, tidak ada salahnya kita menolong anak anjing ini, kasihan dia sudah demam" gumam Ai yang sedang mengendong anak anjingnya
"Aku tidak suka" gumam Renn memanyunkan mulutnya. Dia melemparkan kunci pintu rumahnya keatas meja lalu menjatuhkan badannya keatas sofa
"Doshite? Lihat dia begitu imut" senyum Ai sambil mendekatkan anak anjing itu kedekat Renn dengan sengaja
"Sudah bawa pergi!! Aku tidak suka" perintah Renn menyingkirkan tangan Ai
"Baka" gumam Ai duduk disofa dekat Renn
"Oh ya Renn-chan, sepertinya aku tidak dapat membawanya pulang kerumah jadi aku nintip dirumahmu ya" pinta Ai sambil memelas
"Nani?!!" Tanya Renn terkaget "aku tidak mau dan tidak akan mau!!!" Seru Renn
"Ayolahh Renn-chan" pinta Ai terus menerus

END FLASHBACK~

"Omae!!" Teriak seorang yang menyadarkan Ai
"Ne? Doshite?" Tanya Ai dengan polosnya
"Kerjaan kau selain melamun apa lagi?" Tanya Yuya sedikit menyindir
"Gomen" gumam Ai
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Yuya
"Aku? Disini? Ettoo.. Ano... Daijoubu desu" senyum Ai tanpa dosa
Yuya pun menghela napas lalu kembali menyuapin anak anjing itu
"Boleh aku pegang anak anjingnya?" Tanya Ai
"Ya" angguk Yuya ragu-ragu
"Wuah lucu sekali" gumam Ai langsung memeluk anjing itu "siapa namanya?" Tanya Ai menatap Yuya. Yuya hanya mengangkat bahu
"Kamu tidak menamainnya?" Tanya Ai
"Iie" gumam Yuya mengigit roti yang ada ditangannya
"Hm.. Bagaimana kalo kita namakan Renn" gumam Ai
"Apa?!!" teriak Renn kaget
"Renn?" Gumam Yuya ikut terkaget lalu memalingkan wajahnya menatap Renn
"Nama yang bagus bukan?" Tanya Ai tersenyum senang
"H..ha..hai" angguk Yuya acuh tak acuh
"Ai-chan,, kamu jahat!! Kenapa menamakan anak anjing itu pakai namaku?" Bentak Renn tidak menerimannya
"Renn-chan, kawaii nee" gumam Ai mengangkat anak anjing itu lalu menciumnya
"Aku disini Ai-chan, kenapa kamu mengangapku itu anak anjing kumel itu?" Tanya Renn kesal
"Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?" Batin Yuya benar-benar tidak mengerti


***
"Kenapa dia selalu bersifat cuek seperti begini ketika disekolah? Padahal dia cukup baik"batin Ai ketika melihat Yuya mulai buat onar didalam kelas lagi
Renn menghela napas, dia bersenderan dimeja seberang meja Yuya sambil melihat Yuya yang sedang mencaci maki gurunya "indahnya anak jaman sekarang" gumamnya mengeleng,tanpa menyadari jika dia sendiri juga masih muda
*Dubrakk
Suara kursi yang baru ditendang Yuya pun membuat suasana terdiam hening menatap dia
"Jangan sekali-kali membuatku emosi" ucapnya menatap tajam senseinya dan berjalan keluar kelas

Setelah berjalan  ketaman Yuya langsung menonjok pohon yang didepan hadapannya
"Apakah sikapmu itu pantas untuk seorang pelajar?" Tanya seseorang yang menghampiri Yuya.
"Bukan urusanmu" gumam Yuya menatap Renn
"Kenapa bukan urusanku?hanya kau saja yang dapat melihatku bukan? Jadi kita itu temen" jelas Renn sok dekat
"Siapa teman mu? Jangan sok akrab" ketus Yuya dingin
"Kau benar-benar keras kepala" gumam Renn melipat kedua tangannya didepan dada dan mengeleng-gelengkan kepalanya
Yuya tidak menghiraukan kata-kata Renn dia berjalan beberapa langkah menuju bangku taman
"Kenapa kamu selalu bersikap dingin terhadap orang-orang? Aku tau itu bukan sifat aslimu" gumam Renn menjadi serius dia menghampiri Yuya dan duduk disebelah Yuya.
"Bukan urusanmu" gumam Yuya lagi
"Hey! Kau!" Teriak Renn kesal "bagaimana  aku bsa tenang  menyerahkan Ai-chan ke kamu jika sikapmu sedingin es batu" gumam Renn yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri
"Apa katamu?" Tanya Yuya yang mendengar Renn ngoceh tidak jelas
"Iie..iie.daijoubu desu" nyengir Renn
"Apa hubungan kau dengan perempuan itu?" Tanya Yuya menatap lantai dengan tatapan kosong
"Siapa? Ai-chan?" Tanya Renn langsung menatap Yuya
"Un" angguk Yuya melipat kedua tangannya didepan dagunya
Renn menjadi terdiam
"Dia pacarku" gumamnya menunduk
"Pacarmu?" Tanya Yuya terkaget
"Un" angguk Renn sekali lagi
"Kenapa kamu mengikutinya? Bukan kau seorang shinigami?"Tanya Yuya
"Oi! Aku bukan shinigami tetapi angel, mengerti kamu?" Tanya Renn tidak menerima jika dia dipanggil malaikat pencabut nyawa
"Sama saja yang penting kau sudah mati" ketus Yuya
"Apa kata mu?!" Tanya Renn mengamuk
"Bukan itu kernyataan?" Tanya Yuya menatap Renn
"Iya juga" angguk Renn menyetujui
"Jadi kenapa kau mengikutinya?" Tanya Yuya kembali ke topik
"Hm.. Aku ingin mencarikan  seorang yang benar-benar dapat melindungi ai-chan" gumam Renn menundukan kepalanya "dan orang itu adalah kamu" lanjutnya menatap Yuya dengan serius
"Ore?" Tanya Yuya terkaget
"Un" angguk Renn memastikan
"Siapa aku siapa kau, seenak jidat kau menyuruhku melindungi perempuan itu?" Tanya Yuya tidak menerima
"Aku mohon, aku tau ini sangat berat, tetapi ini demi Ai, aku ingin dia memulai kehidupan baru bukan terkurung dalam kenang kami berdua" cerita Renn
"Aku rasa hidup dia sangat ceria" gumam Yuya yang tau Ai selalu ceria didepannya
"Iya, memang dia menuruti kata-kataku tetapi tidak sepenuhnya, dia masih selalu memikirkanku" jelas Renn sedih
"Itu si urusan kalian" gumam Yuya bangun dan berjalan pergi meninggalkan Renn
"Yuya-kun.. Yuya.." Panggil Renn tetapi Yuya tidak menghiraukannya
"Kenapa sikapnya seperti ini" gumam Renn menghela napas

To Be Cont..

Apa ada yang mau tau bagaimana anak anjing dirumah Renn?
FLASHBACK ~
"Kenapa anjing jelek ini harus tinggal dirumahku?"Gumam Renn menatap tajam anak anjing didepan hadapannya itu setelah Ai pulang
"Hey kau jelek!! Sana pergi!! Jangan tidur disofa ku" usir Renn
Anak anjing itu melihat Renn dengan malas lalu kembali tidur dan membuat Renn emosi
"Kau!! Awas aku!!" Gumam Renn menatap kiri kanan mencari sesuatu, dia pergi mengambil sebuah kardus kecil lalu memasukan anak anjing itu kedalamnya "jangan macam-macam kau!!" Gumamnya menaruh kardus itu didekat pintu masuk, setalah itu dia kembali keruang tamu dan menjatuhkan dirinya dengan malas keatas sofa "melelahkan" gumamnya menghela napas dan berusaha mengambil remote tv yang berada tepat diatas meja. Renn pun mulai menonton drama. Tanpa sadar dia melihat kearah anak anjing yang sedang mau naik keatas sofa dan kembali nonton, tidak berapa lama dia baru tersadar jika anak anjing itu sudah tidur disofannya
"Kenapa dia muncul lagi? Dasar kau anjing jelek!!" Serunya kesal



Tidak ada komentar:

Posting Komentar